MC - KCBM

Bunda Maria dan Jiwa yang Mati Tanpa Rahmat Pertobatan

In Kisah Nyata on 05/08/2015 at 12:15

Pengantar dari penerjemah terjemahan Bahasa Inggris dari Bahasa Perancis :

Ibu Romo Hermann Cohen meninggal tanpa menerima Baptisan Kudus. Mereka yang tidak bijaksana akan melihat bahwa “dia mati sebagai orang Yahudi yang tak bertobat”, meski banyak doa yang dipanjatkan baginya oleh putranya yang menjadi imam Katolik.

Aku telah menerjemahkan yang berikut ini dari kehidupan sang imam yang akan menarik perhatian kita semua yang berdoa bagi jiwa-jiwa yang nampaknya hidup dan mati tanpa rahmat pertobatan.

Patut dicatat bahwa Rm. Hermann telah mempersembahkan ibunya kepada Bunda kita ratusan kali dan memanjatkan banyak doa bagi keselamatannya; dia tidak pernah kehilangan harapan bagi kelangsungan ibunya.

Fr Herman RGB

Romo Hermann Cohen, OCD.

Kisah

Saat-saat terakhir bagi Ny. Cohen [ibu sang imam] tiba pada 13 Desember 1855. Romo Hermann saat itu sementara menyampaikan khotbah Advent di Lyon. Dia kemudian mengumumkan berita duka ini kepada temannya:

“Allah telah menghantam keras jantungku. Ibuku yang malang meninggal dunia … dan aku tetap berada dalam ketidakpastian! Meskipun kita telah begitu banyak berdoa namun kita harus berharap telah terjadi sesuatu antara jiwanya dan Allah pada saat-saat terakhir yang kita sendiri tidak ketahui. …”

Kita dapat dengan mudah membayangkan kesakitan Rm. Hermann ketika mengetahui kematian ibunya. Dia telah begitu banyak berdoa, dan begitu banyak doa yang didarasakan bagi pertobatannya, namun dia datang ke hadapan pengadilan Allah tanpa menerima Baptisan Kudus!

“Aku juga mempunyai seorang ibu,” demikian tulisnya di suatu hari, “aku telah meninggalkannya untuk mengikuti Yesus Kristus, dia tidak lagi memanggilku ‘putranya yang baik’. Rambutnya sudah menjadi perak, alisnya mengerut, dan aku takut melihatnya meninggal. Oh, tidak ! Aku tidak ingin melihat dia meninggal sebelum mencintai Yesus Kristus, dan telah bertahun-tahun aku menunggu ibuku seperti [Santa] Monika menunggu [Santo] Agustinus…”

Allah nampaknya telah memandang hina semua doanya dan menolak keinginannya yang penuh kasih dan masuk akal itu. Imannya dan cintanya mengalami ujian berat. Meski demikian, ketika kesedihannya mendalam, harapannya atas kebaikan tak terbatas dari Allah tidak tertumbangkan…

Tak lama kemudian, dia memberitahukan kepada Pastor Ars [St. Yohanes Vianney] mengenai kegelisahannya atas kematian ibunya yang malang yang meninggal tanpa rahmat Pembaptisan. “Berharaplah!” jawab manusia Allah tersebut [St. Yohanes Vianney], “Berharaplah; engkau suatu hari akan menerima, pada hari raya Maria Dikandung Tanpa Dosa, sebuah surat yang akan memberimu kelegaan yang besar.”

Kata-kata ini hampir terlupakan, ketika, pada 8 Desember 1861, enam tahun setelah kematian ibunya, seorang romo Yesuit memberikan Rm. Hermann sepucuk surat yang isinya sebagai berikut.

(Orang yang menulis surat ini meninggal dengan harum kekudusan [tubuh mengeluarkan bau harum]; dia [wanita ini] terkenal di dunia religius dan dunia ascetis atas tulisan-tulisannya mengenai Ekaristi.)

Isi Surat

Pada 18 Oktober, setelah Komuni Kudus, aku menemukan diriku dalam salah satu saat-saat persatuan intim dengan Tuhan kita, dimana Dia membuatku begitu merasakan kehadiran-Nya di dalam sakramen cinta-Nya sehingga iman nampaknya tidak dibutuhkan lagi untuk percaya bahwa Dia di situ [di dalam Sakramen Ekaristi].

Tak lama kemudian, Dia membiarkan aku mendengarkan suara-Nya dan Dia ingin memberiku beberapa penjelasan terkait sebuah percakapan yang aku lakukan di malam sebelumnya.

Aku ingat bahwa, dalam percakapan tersebut, salah satu temanku menunjukkan keterkejutannya bagaimana Tuhan kita, yang telah berjanji memberikan segalanya atas doa, bagaimanapun tetap menutup telinga atas doa-doa yang begitu banyak didaraskan oleh Romo Hermann kepada-Nya guna memperoleh rahmat pertobatan bagi ibunya; keterkejutannya nyaris sampai pada tingkat ketidakpuasan, dan aku telah mengalami kesulitan untuk membuatnya memahami bahwa kita harus memuji keadilan Tuhan dan tidak berupaya menembus rahasia [keadilan-Nya].

Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Yesus-ku bagaimana Dia, yang adalah kebaikan itu sendiri, bisa menolak doa-doa Rm. Hermann, dan tidak menganugerahkan rahmat pertobatan bagi ibunya.

Ini adalah tanggapan-Nya (Tuhan kita):

Kenapa Anna [nama temanku itu] selalu ingin mengetahui rahasia-rahasia keadilan-Ku dan kenapa dia mencoba menembus misteri-misteri yang dia tidak dapat pahami?

Katakan kepadanya bahwa Aku tidak berhutang rahmat-Ku kepada siapapun, bahwa Aku memberikannya kepada siapapun yang Aku berkenan dan dalam bertindak begini Aku tidak berhenti menjadi yang adil dan menjadi keadilan itu sendiri.

Namun dia boleh tahu bahwa, daripada tidak menepati janji yang Aku telah buat bagi doa, Aku akan mengacaukan langit dan bumi, dan bahwa setiap doa yang memiliki keagungan-Ku dan keselamatan jiwa-jiwa sebagai obyeknya akan selalu didengar kalau [doa tersebut] diselubungi oleh kualitas-kualitas yang diperlukan.

Dia menambahkan: “Dan untuk membuktikan kepadamu kebenaran ini, Aku berkehendak untuk memberitahu bahwa sesuatu telah terjadi saat kematian ibu dari Rm. Hermann.”

Yesus-ku kemudian menerangiku dengan seberkas sinar dari Terang Ilahi-Nya dan membuatku memahami atau lebih tepatnya melihat dalam diri-Nya apa yang ingin aku pahami.

Pada saat di mana ibu dari Rm. Hermann hampir menghembuskan nafas penghabisannya; pada saat dia nampak kehilangan kesadaran, nyaris tanpa kehidupan; Maria, bunda kita yang baik, menampakkan dirinya dihadapan Putra Ilahinya, dan rebah tiarap di kaki-Nya, sambil berkata kepadaNya:

“Mohon ampun dan kerahiman, oh Putraku! untuk jiwa ini yang akan musnah. Tinggal sekejap lagi dan dia akan hilang, hilang untuk selamanya. Aku memohon kepadaMu, lakukanlah untuk ibu dari hambaku Hermann, apa yang ingin Engkau lakukan bagi ibu-Mu, jika dia berada di posisi [si ibu] dan Engkau di posisi [sang imam]. Jiwa ibunya adalah milik [sang imam] yang paling berharga; dia [sang imam] telah mempersembahkannya kepadaku ribuan kali; dia telah mempersembahkannya kepada kelembutan dan perhatian hatiku. Bisakah aku melihatnya musnah? Tidak, tidak, jiwa ini milikku: Aku menghendakinya, aku mengklaimnya sebagai sebuah warisan, sebagai harga dari darah-Mu dan dari penderitaan-penderitaanku di kaki Salib-Mu.”

Hampir tidak pernah sang pemohon berhenti bicara, ketika sebuah rahmat yang kuat dan penuh daya, datang dari sumber segala rahmat, dari hati Yesus kita yang terpuji, dan datang untuk menerangi jiwa dari perempuan Yahudi yang malang dan sekarat itu; dalam sekejap berjaya atas kekeraskepalaan dan penolakannya.

Jiwa ini dengan segera memalingkan dirinya dengan keyakinan yang penuh kasih kepada-Nya yang kerahiman-Nya telah mengejar [sang jiwa] sejauh tangan-tangan kematian dan [sang jiwa] berkata kepadaNya: “Oh Yesus, Allah orang-orang Kristen, Allah yang putraku puji, aku percaya, aku berharap dalam Diri-Mu, kasihanilah aku.”

Dalam tangisan ini, telah terdengar oleh Allah semata dan yang datang dari relung terdalam dari hati wanita yang sekarat itu, disertai penyesalan yang tulus atas kekeraskepalaannya dan atas dosa-dosanya, keinginan akan baptisan, kehendak nyata untuk menerima [baptisan] dan untuk hidup menurut aturan-aturan dan perintah-perintah agama kudus kita, seandainya dia bisa kembali hidup.

Lompatan iman dan harapan dalam Yesus ini adalah sentimen terakhir dari jiwa tersebut; hal [lompatan iman dan harapan dalam Yesus tersebut] dibuat pada saat dia dibawa ke Tahta Kerahiman Ilahi. Dengan memutuskan ikatan lemah yang menahannya pada tubuh fananya, dia jatuh di atas kaki-Nya yang telah menjadi Penyelamatnya (sesaat) sebelum [Dia] menjadi Hakimnya.”

Setelah menunjukkan kepadaku semua ini, Tuhan kita menambahkan:

“Buatlah agar ini diketahui oleh Rm. Hermann; inilah kelegaan yang ingin Aku berikan bagi kesedihannya yang panjang, sehingga dia akan memberkati, dan [dia] telah memberkati dimana-mana [sebelumnya], kebaikan dari hati Bunda-Ku dan kuasa [Sang Bunda] atas [hati]-Ku.”

Penutup

Tanpa diketahui oleh Rm. Hermann, si cacat malang yang telah menulis baris-baris ini berbahagia karena merasa bahwa dia mungkin telah menyebar suatu kelegaan kecil dan balsem pada luka yang masih berdarah dari hati sang putra dan imam ini. Dia [si wanita yang cacat dan malang ini] memberanikan diri untuk meminta doa-doa khusuk [sang imam], dan dia nampaknya yakin bahwa dia [sang imam] tidak akan menolak siapapun, yang, meskipun tidak dikenalnya, bersatu dengannya dalam ikatan kudus dari iman yang sama dan pengharapanan yang sama. …”

Yang nampaknya menambah wibawa besar atas surat ini adalah bahwa hal [peristiwa pertobatan sang ibu yang memberi kelegaan kepada sang imam] telah diramalkan enam tahun sebelumnya oleh sang Pastor Ars [St. Yohanes Vianney] yang berbahagia.

Diterjemahkan secara bebas dari artikel http://papastronsay.blogspot.de/2011/10/text-of-letter-prophesied-to-father.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: