MC - KCBM

Pemurnian Maria: Apakah Maria Berdosa ?

In Wawasan on 01/02/2012 at 01:24

T: Bagaimana orang-orang Katolik dapat mengklaim bahwa Maria tanpa dosa jika Lukas memberitakan bahwa Maria pergi ke Bait Allah untuk melakukan ritual pemurnian persalinan (Luk 2:22-24), termasuk mempersembahkan korban penghapus dosa (Im 12:8)?

J: Sungguh menakjubkan bagaimana orang memikirkan sesuatu seperti Gereja Katolik yang telah selama sekitar 2.000 tahun tidak menjumpai keberatan-keberatan mendasar seperti itu sebelumnya. Bahkan, St. Thomas Aquinas memiliki sebuah bagian yang bagus dalam Summa Theologiae (III: 37:4) tepat mengenai topik ini, yang menarik bahwa di zamannya pertanyaan itu ilmiah karena setiap orang telah mempercayai bahwa Maria sepenuhnya tanpa dosa oleh keajaiban kasih karunia Allah (seperti kita semua yang akan sepenuhnya tanpa dosa suatu hari nanti). Cukup tunjukkan bagaimana cermatnya Sang Dokter Malaikat [gelar Gereja untuk St. Thomas Aquinas -red] menyangkal setiap keberatan yang mungkin terjadi. Dan alangkah luar biasa mudahnya untuk menginjak-injak keberatan yang rapuh ini menjadi kepingan-kepingan kecil.

Jawaban mendasar adalah bahwa Maria memilih tunduk pada ritual pemurnian persalinan – dengan kewajiban mempersembahkan korban penghapus dosa – untuk alasan yang sama dengan alasan Yesus disunat (sebuah ritual pemurnian yang melambangkan pembersihan secara rohani; bdk Ul 10:16, 30:6, Yer 4:4, Rom 2:29), Yesus merayakan Paskah (yang merupakan juga persembahan korban penghapus dosa sehingga murka Allah akan melewati isi rumah itu), dan baptisan (ritual penyucian lainnya; Kis 22:16, 1 Ptr 3:21). Sesungguhnya, jika ada kesulitan dalam menjelaskan mengapa Maria memilih tunduk pada ritual pemurnian tersebut, maka kesulitan itu akan menjadi sepuluh kali lebih sulit dalam menjelaskan mengapa Kristus memilih tunduk pada ritual-ritual ini mengingat Dia adalah suci pada hakekatnya dan tak terbatas, sementara Maria dijadikan sepenuhnya tanpa dosa semata oleh kasih karunia Allah, sebagaimana kita kelak.

Alasan pertama Kristus memilih tunduk pada sunat dan Paskah adalah karena Hukum Musa menuntutnya, dan Dia (seperti Maria) “lahir di bawah Hukum itu” (Gal 4:4).

Alasan kedua adalah guna menghilangkan berbagai penyebab kritik dan fitnah dari pihak yang lain, Kristus memilih tunduk pada hal-hal di dalam Hukum Musa yang mana Dia tidak memiliki kebutuhan atau keperluan pribadi terhadapnya (bdk Mat 17:24-27).

Alasan ketiga adalah bahwa Kristus melakukan hal-hal ini dalam rangka untuk memberikan sebuah teladan bagi yang lain – sebuah teladan ketaatan kepada Hukum Musa yang berkaitan dengan sunat dan Paskah, dan sebuah teladan ketaatan kepada Hukum Kristen dalam kasus baptisan.

Ada juga alasan lain (seperti fakta bahwa ritual-ritual ini menunjuk ke arah Kristus), tetapi tiga alasan yang telah diberikan itu merupakan penjelasan yang lebih dari cukup tentang mengapa Maria memilih tunduk pada ritual Hukum Musa mengenai pemurnian setelah persalinan (termasuk persembahan korban penghapus dosa). Dia lahir di bawah hukum itu, dia tidak ingin memberikan kesempatan bagi fitnah atas perilakunya, dan dia ingin memberikan sebuah teladan kepada yang lain.

Berikut adalah bagian paling penting dari apa yang Sang Doktor Malaikat harus sampaikan mengenai masalah ini:

Keberatan 1. Nampaknya tidak pantas bagi Bunda Allah untuk pergi ke Bait Allah guna dimurnikan. Pemurnian mensyaratkan kenajisan. Tapi tidak ada kenajisan dalam diri Santa Perawan, seperti yang dinyatakan di atas (III:27-28). Oleh karena itu dia tidak seharusnya pergi ke Bait Allah untuk dimurnikan.

Saya menjawab bahwa, karena sempurnanya kasih karunia yang mengalir dari Kristus kepada Bunda-Nya, sehingga menjadikan sang bunda seperti Putra-nya dalam kerendahan hati: karena “Allah mengaruniakan kasih karunia kepada mereka yang rendah hati,” seperti yang tertulis dalam Yak 4:6. Dan karena itu, sebagaimana Kristus, yang meskipun tidak takluk pada Hukum itu namun ingin memilih tunduk pada sunat dan tanggungan-tanggungan lain dari Hukum tersebut, dalam rangka untuk memberikan teladan kerendahan hati dan ketaatan; dan dalam rangka untuk menunjukkan persetujuan-Nya atas Hukum itu; dan, sekali lagi, dalam rangka untuk menjauhkan dari orang-orang Yahudi, suatu alasan untuk memfitnah-Nya: untuk alasan yang sama, Dia ingin agar Bunda-Nya juga menunaikan aturan Hukum itu, yang kepadanya, bagaimanapun juga, dia tidak takluk.

Menjawab Keberatan 1. Meskipun Santa Perawan tidak memiliki kenajisan, namun dia ingin menunaikan ibadah pemurnian, bukan karena dia membutuhkannya, namun karena perintah Hukum itu. Sehingga Penginjil mengatakan pada intinya bahwa hari-hari pemurniannya itu “menurut Hukum tersebut” telah tercapai, karena dia tidak membutuhkan pemurnian di dalam dirinya.

Sumber: Catholic Information Network (CIN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: