MC - KCBM

Deklarasi Menyangkut Fenomena dan Pesan Naju

In Surat on 31/05/2011 at 20:25

Tanda Tangan Uskup Agung Kwangju Victorinus K. Youn

Pengantar

Berikut adalah deklarasi menyangkut Peristiwa Naju yang dikeluarkan oleh Uskup Agung Victorinus K. Youn dari Kwangju, Korea, pada 1 Januari 1998. Naju berada dalam yurisdiksi Keuskupan Agung Kwangju.

Deklarasi tentang “Fenomena dan Pesan-pesan yang Terjadi pada Julia Youn dari Naju dan patung Bunda Yang Terberkati Miliknya”

Permasalahan yang menyangkut Julia Youn (peristiwa-peristiwa yang timbul di kota Naju, yang terletak di kawasan dibawah yurisdiksi Keuskupan Agung Kwangju) yang dimulai dengan patung menangis dari Bunda Yang Terberkati pada tanggal 30 Juli 1985 telah berkembang menjadi berbagai peristiwa yang kemudian beredar luas, termasuk apa yang disebut mujizat seperti patung Bunda Yang Terberkati menitikkan air mata getir, minyak mewangi, pergerakan maju mundur dalam ceruk, dan keharuman bunga mawar dari tubuh Julia, penderitaan jasmaninya bagi dosa-dosa aborsi dan dosa-dosa lain yang membanjiri dunia, dan yang paling terbaru berupa mujizat Ekaristi, dll.

Ibu Julia Youn, yang menyadari fakta bahwa mereka yang tertarik pada fenomena semacam ini dan percaya mereka dapat diandalkan sangat banyak, menegaskan bahwa apa yang disebut “Pesan-pesan dari Bunda Yang Terberkati dari Naju” yang menurutnya telah dia dengar dari Bunda Yang Terberkati adalah otentik dan karenanya mereka [pesan-pesan itu –red] adalah benar-benar wahyu pribadi.

Sebagaimana diketahui semua orang Kristen, wahyu dan Ekaristi adalah jantung dari Iman Katolik yang Ortodoks. Karena alasan itu, hal-hal yang berkaitan dengan keduanya harus dipahami dengan jelas melalui ajaran Iman Katolik yang Ortodoks.

Komite Investigasi Naju, yang dibentuk oleh saya, Gembala dan Uskup Agung Keuskupan Agung Kwangju, pada tanggal 30 Desember 1994, telah memeriksa apa yang disebut “Fenomena dan Pesan-pesan yang terjadi pada Julia Youn dari Naju dan patung Bunda Yang Terberkati miliknya” secara hati-hati dengan mata iman dan dari pendapat multilateral.

Setelah pertemuan pertama tanggal 9 Januari 1995, saya menerbitkan laporan interim Komite Investigasi dengan nama yang bertanda tangan adalah Ketua Komite Investigasi Naju (Romo Augustinus Kim Jai-Young) pada tanggal 16 Juni 1995.

Selama waktu ini, Komite Investigasi Naju telah mengadakan 15 kali pertemuan. Pengujian iman dan pemeriksaan fenomena melalui penganalisaan seluruh isi kandungan dan proses pembentukannya dalam semua buku yang terkait dan barang-barang cetakan, telah dilakukan secara cermat. Paralel dengan ini pihak Komite memiliki lima kali kesempatan mengumpulkan kesaksian-kesaksuan dari 14 orang, termasuk Ibu Julia Youn, yang merupakan tokoh sentral dari “peristiwa-peristiwa yang timbul di Naju”. Para anggota Komite juga telah mengunjungi rumah Julia untuk memeriksa tidak hanya tempat patung Bunda Yang Terberkati, tetapi juga ruang di mana patung itu ditempatkan.

1. Berdasarkan hasil penyelidikan, saya, Uskup Agung Keuskupan Agung Kwangju, mengumumkan penilaian publik saya terhadap apa yang disebut “peristiwa-peristiwa yang timbul di Naju”, karena saya memiliki episcopal magisterium [kuasa mengajar Gereja selaku uskup –red] untuk memberikan pemahaman yang otoritatif (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 75-87; Dei Verbum [Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi –red], 10) mengenai hasil investigasi yang dilakukan oleh Komite Investigasi.

1.1. Telah ditemukan bahwa apa yang disebut “Pesan-pesan Bunda Yang Terberkati dari Naju”, yang mana Ibu Julia Youn secara terus menerus bersikeras sebagai yang berasal dari Bunda Yang Terberkati, ternyata berisikan tidak hanya beberapa bagian yang disalin atau dijiplak atau dikutip dari buku-buku lain (misalnya, “Kepada para imam yang sangat dicintai dari Bunda Yang Terberkati”), tetapi juga beberapa bagian lain (yang menyangkut air ajaib, persiapan tempat kudus, pembangunan Basilika) yang sengaja diperbaiki atau dihilangkan, atau diselipkan atau diubah. Ini berarti bahwa buku “Pesan-pesan Bunda Yang Terberkati dari Naju” tidak cukup murni dan terpercaya. Isi kandungan lain yang dikemukakan Ibu Julia Youn, Bapa tampaknya menunda waktu terakhir (bdk. isi kandungan yang tampaknya dianggap sebagai “Sabda Bapa” diperdengarkan pada tanggal 16 Juli 1995), di mana sebenarnya telah diputuskan hanya Bapa yang tahu (bdk. Katekismus Gereja Katolik 1040), secara nyata-nyata bertentangan dengan ajaran Iman Katolik yang Ortodoks. Oleh karena itu, apa yang disebut “Pesan-pesan Bunda Yang Terberkati dari Naju” itu diperkirakan sebagai hasil dari pengalaman pribadi atau meditasi Ibu Julia Youn, dan tidak mengandung bukti bahwa mereka [pesan-pesan itu –red] adalah wahyu pribadi meskipun Ibu Julia Youn dan para pengikutnya bersikeras bahwa mereka [pesan-pesan itu –red] adalah wahyu pribadi yang otentik.

1.2. Fenomena yang diduga sebagai mujizat Ekaristi yang jatuh dari langit adalah bertentangan dengan doktrin Gereja Katolik bahwa hanya melalui konsekrasi imam Sakramen Ekaristi itu hadir (bdk. Katekismus Gereja Katolik 1411: DS [Koleksi Denzinger-Schonmetzer dari Dokumen-dokumen Gereja –red] 902) meskipun sang imam dalam keadaan berdosa berat, karena ketika semua sakramen dirayakan secara tepat sesuai dengan intensi Gereja (ex opere operato [dari kerja yang dihasilkan –red]), Kristus dan Roh Kudus sendiri yang bekerja di dalam mereka [sakramen-sakramen itu –red] (bdk. Katekismus Gereja Katolik 1128 : DS 793-794). Selanjutnya, dugaan fenomena bahwa segera setelah Ibu Julia Youn menerima Ekaristi, Hosti berubah menjadi segumpal daging berdarah di mulutnya, adalah juga bertentangan dengan doktrin Gereja Katolik bahwa bahkan setelah roti dan anggur di-transsubstansiasi-kan menjadi Tubuh dan Darah Kristus dengan formula konsekrasi dari para imam, rupa Roti dan Anggur ini tetap (bdk. Mysterium Fidei [Ensiklik tentang Ekaristi Kudus –red] dari Paus Paulus VI: DS 782, 802, 1321, 1640-1642,1652). Fenomena semacam ini tidak berfungsi sebagai tanda-tanda yang meningkatkan keyakinan umat beriman dalam Ekaristi yang hadir dalam rupa Roti dan Anggur. Sebaliknya, mereka tampaknya bertindak sebagai bertindak sebagai sebuah eemen yang menimbulkan kesimpangsiuran yang hebat dan membingungkan iman orang percaya terhadap Ekaristi.

1.3. Berbagai fenomena ganjil yang terjadi pada Ibu Julia Youn dan di sekelilingnya (fenomena yang timbul dari tubuhnya dan dari patung Bunda Yang Terberkati) dan visi pribadinya juga tidak memberikan tanda yang membuktikan bahwa hal itu benar-benar supranatural dan, karenanya, dari Allah. Mungkin, hal itu dapat dikatakan untuk memperlihatkan beberapa kekuatan gaib.

2. Saya, Uskup Agung Keuskupan Agung Kwangju, sebagai pengajar iman yang otentik dan gembala yang sah meminta secara tulus semua imam, kaum religius dan umat beriman dalam keuskupan ini dan mereka yang terlibat dalam “peristiwa-peristiwa yang timbul di Naju” untuk menerima petunjuk pastoral ini dalam semangat ketaatan kepada otoritas mengajar yang otentik.

2.1. Dengan memperhatikan minat pribadi seseorang, mempertimbangkan dugaan fenomena yang mengacaukan seperti “peristiwa-peristiwa yang timbul di Naju” dan bersikeras menganggapnya sebagai supranatural, dianggap sebagai tindakan yang memecah-belah kesatuan iman Gereja. Jadi publikasi atau penyebaran semua materi propaganda yang berhubungan dengan “peristiwa-peristiwa yang timbul di Naju” (seperti literatur yang dicetak atau diterbitkan kaset audi0/video, foto, dll) secara resmi dilarang (bdk. KHK 823, 1), dan pula permintaan saya guna menahan diri untuk membaca dan melihat dokumentasi-dokumentasi yang relevan.

2.2. Oleh karena itu saya, selaku Gembala, telah meminta Ibu Julia Youn untuk menghentikan acara peringatan yang telah mulai dilaksanakan pada hari peringatan tangisan pertama dari patung Bunda Yang Terberkati, dan tidak untuk menyebarkan pengalaman-pengalaman pribadinya dan apa yang disebut “Pesan-pesan Bunda Yang Terberkati dari Naju” yang secara keliru dinyatakan sebagai fenomena supranatural dan wahyu pribadi. Anjuran ini tetap berlaku dan dengan demikian ketaatan kepada otoritas mengajar diperlukan sekai lagi.

2.3. Larangan sebelumnya untuk menyatakan misa, merayakan liturgi dan sakramen-sakramen pada tempat pribadi apa pun yang berhubungan dengan Ibu Julia Youn tetap berlaku. Pertemuan komunal seperti malam perayaan yang mengambil bentuk Liturgi Sabda dan Hora Sancta [Jam Suci –red], dan pertemuan doa internal lainnya yang diadakan pada setiap Kamis dan Sabtu pertama dalam setiap bulan di ruang milik Ibu Julia Youn di mana patung Bunda Yang Terberkat ditempatkan, dilarang. Orang-orang di sekitar Ibu Julia Youn (terutama para pembantu sukarela), karenanya, diminta untuk mematuhi Magisterium, pulang ke rumah dan melaksanakan devosi yang otentik kepada Bunda Maria.

2.4. Tindakan sebelumnya sepanjang yang telah saya berikan dalam instruksi ini, yakni, kecuali untuk pastor paroki yang memiliki yurisdiksi, para imam lainnya yang telah bertindak sebagai pendukung harus menahan diri dari memainkan peran apa pun, tetap berlaku. Juga diharapkan bahwa para pastor dan para imam menjaga pikiran mereka atas minat sederhana dari kaum beriman dalam apa yang disebut “peristiwa-peristiwa yang timbul di Naju” sehingga jangan sampai merembes ke dalam kehidupan devosi umum dari paroki-paroki atau lembaga-lembaga Katolik di mana para imam itu bertanggung jawab atasnya.

Akhirnya, saya berharap dan berdoa bahwa semua anggota Keuskupan Agung Kwangju mau mendengar dan menerima ajaran Katolik seperti bahwa “… bakti yang sejati tidak terdiri dari perasaan yang mandul dan bersifat sementara, tidak pula dalam sikap mudah percaya tanpa dasar. Bakti itu bersumber pada iman yang sejati”[1] (Lumen Gentium [Konstitusi Dogmatis tentang Gereja –red] 67 ) dan “Kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan.” [1] (Lumen Gentium 12), dan menghabiskan waktu dan tenaga mereka untuk mempromosikan devosi kepada Bunda Yang Terberkati, dalam berbagai bentuk yang telah disetujui oleh Gereja Katolik.

Perawan Maria Yang Terberkati mengambil keaslian dan keefektifannya dari Kristus, menemukan ekspresi lengkapnya dalam Kristus, dan membawa melalui Kristus dalam Roh kepada Bapa (Pengantar Marialis Cultus). Akhirnya, sejauh mungkin perlu, kami ingin mengulangi bahwa tujuan pokok berdevosi kepada Perawan Yang Terberkati adalah untuk memuliakan Allah dan untuk membawa orang Kristen berkomitmen kepada dirinya sendiri untuk hidup yang mutlak selaras dengan kehendak-Nya (Marialis Cultus 39) .

St. Ambrosius, yang berbicara kepada orang-orang, mengungkapkan harapan bahwa “masing-masing dari mereka akan memiliki semangat Maria untuk memuliakan Allah. Semoga hati Maria ada di dalam setiap orang Kristen untuk memberitakan kebesaran Tuhan; semoga jiwanya [Maria –red] ada di dalam setiap orang untuk bersuka cita di dalam Allah.” (St. Ambrosius, Expositio Evangelii Secundum Lucam, Ⅱ, 26).

Pada tanggal 1 Januari 1998,

Pesta Maria, Bunda Suci Allah

Uskup Agung Kwangju,
Victorinus K. Youn


Catatan: [1] Terjemahan diambil dari katolisitas.org

Sumber: Web Keuskupan Agung Kwangju

Penerjemah bebas: PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: