MC - KCBM

Bunda Maria Bukan Lagi Hanya Untuk Orang Katolik

In Berita, Wawasan on 14/05/2011 at 04:29


WASHINGTON (CNS) – Publikasi-publikasi mulai dari majalah Time hingga Christianity Today telah menyatakan baru-baru ini, Maria, Sang Bunda Yesus, bukan lagi hanya untuk orang Katolik saja.

Keistimewaan yang ada pada Bunda Maria adalah yang paling disukai sepanjang masa untuk para editor yang sementara mencari bahan tulisan bertemakan agama sebelum Natal, dan dalam beberapa tahun terakhir ini banyak dari artikel-artikel ini telah berfokus pada peningkatan popularitas Bunda Maria di kalangan Protestan.

Seorang Marianis, Romo Thomas Thompson, editor Marian Library Newsletter pada University of Dayton di Ohio, menunjukkan bahwa meluasnya penerimaan Protestan terhadap Bunda Maria adalah berdasarkan pada pandangan biblis yang ketat terhadap Sang Bunda, bukan pada segala macam perubahan dalam teologi Protestan.

Beberapa doktrin Katolik tentang Bunda Maria, seperti Dikandung Tanpa Dosa – keyakinan bahwa dia dikandung tanpa dosa – tetap kontroversial di kalangan Protestan, demikian ujar Romo Thompson. Tapi karena semangat anti-Katolik telah memudar di kalangan Protestan, halangan bagi Episkopal, Baptis dan Injili untuk berbalik ke Bunda Maria telah menghilang pula secara perlahan.

“Kami sangat bergembira melihat orang lain tertarik pada Bunda Maria,” katanya dalam sebuah wawancara telepon dengan Catholic News Service.

Timothy George, dekan Beeson Divinity School pada Samford University, sebuah perguruan tinggi Baptis di Birmingham, Alabama, menulis baru-baru ini bahwa “kini saatnya bagi evangelis untuk memulihkan apresiasi biblis secara penuh terhadap Santa Perawan Maria dan perannya dalam sejarah keselamatan, dan untuk melakukannya secara tepat sebagai evangelis.” Komentar George muncul dalam Christianity Today edisi Desember 2003 dan dalam koleksi essay 2004 dari berbagai teolog yang berjudul “Maria: Bunda Allah”.

“Kita tidak mungkin dapat mendaraskan Rosario atau berlutut di depan patung Bunda Maria, tetapi kita tidak perlu membuangnya ke laut,” tulis George.

Dalam majalah tersebut, dia mengutip AT Robertson, seorang sarjana Perjanjian Baru dari Southern Baptist pada awal abad ke-20, yang mengatakan Bunda Maria “tidak mendapatkan perlakuan yang adil baik dari kalangan Protestan maupun kalangan Katolik.” Robertson berpendapat bahwa sementara kalangan Katolik “mendewakan” Maria, Injili telah mengabaikannya secara dingin.

“Kami telah takut untuk memuji dan menghormati Maria atas kepenuhan nilai-nilai yang dimilikinya,” kata George, mengutip Robertson, “supaya kita jangan dituduh condong dan simpati dengan Katolik.”

Artikel George selanjutnya menjelaskan alasan historis, biblis dan teologis, mengapa kalangan Protestan seharusnya merangkul Bunda Maria pula.

“Kita tidak perlu pergi melalui Maria untuk mendapati Yesus,” simpul George, “tapi kita bisa bergabung dengan Maria untuk mengarahkan orang lain kepada-Nya.”

Buku lain baru-baru ini, “Yang Berbahagia,” adalah kumpulan 11 essay mengenai Bunda Maria oleh para sarjana Protestan.

Dalam pendahuluan mereka, editor Beverly Roberts Gaventa dan Cynthia L. Rigby, masing-masing adalah profesor di Princeton Theological Seminary di New Jersey dan Austin Presbyterian Theological Seminary di Texas, mengatakan tujuan mereka terhadap buku ini adalah untuk membantu kalangan Protestan untuk berpikir dengan cara baru tentang Maria, “memberkati dia dan diberkati olehnya. ”

Dia [Maria] adalah tokoh iman yang tidak selalu mengerti tetapi berusaha untuk menaruh kepercayaannya di dalam Tuhan,” tulis mereka.

Di antara perbedaan-perbedaan dengan Katolik yang dimiliki para pemimpin Reformasi Protestan yang telah berkembang selama Abad Pertengahan adalah mengenai devosi kepada Bunda Maria. Para Reformator beralasan bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara antara Allah dan umat manusia dan bahwa “devosi kepada Maria yang bersemangat tampaknya bagi mereka akan mengancam kemurnian pesan Injil akan keselamatan oleh anugerah saja, melalui iman saja, melalui Kristus saja,” tulis Daniel L. Migliore, seorang profesor teologi pada Princeton Theological Seminary, dalam bab yang ditulisnya dalam buku “Yang Berbahagia”.

Bagi umat Islam, di sisi lain, Bunda Maria selalu menjadi bagian dari keadaan.

John Alden Williams, profesor emeritus dalam bidang sastra dari agama pada College of William and Mary di Virginia, adalah seorang sejarawan Katolik yang telah mempelajari peradaban Islam dan agama. Dia dan kolega di College itu, Profesor James A. Bill, menerbitkan buku berjudul “Roma Katolik dan Muslim Syi’ah” pada tahun 2002.

Buku itu mencatat bahwa dua bagian dari Quran, buku suci Islam, dibaktikan kepada Bunda Maria, yang dikenal di sana sebagai Maryam. Dia diakui sebagai wanita yang dimurnikan yang dipilih untuk menjadi bunda dari Mesias terjanji. Islam menganggap Yesus seorang nabi penting, tetapi bukan inkarnasi Allah.

Williams menjelaskan dalam sebuah wawancara telepon bahwa, seperti Katolik, Muslim Syiah, yang merupakan minoritas dibandingkan dengan Muslim Sunni yang sangat lebih beragam, percaya akan doa permohonan melalui orang-orang kudus dan orang-orang suci lainnya. Termasuk Bunda Maria, yang dihormati secara mulia sebagai perantara antara manusia dan Allah. Sufi, sekte Islam lainnya, juga percaya akan doa permohonan.

Dalam Islam Sunni, “keseluruhan gagasan dari doa permohonan ditentang,” kata Williams, “seperti halnya di antara kalangan Protestan Calvinis.”

Muslim yang mencari perantaraan Bunda Maria, di sisi lain, melihat dia dalam cara yang lebih menyerupai dengan yang Katolik lakukan, kata Williams.

Ketika sementara hidup di Timur Tengah, ia mengatakan bahwa ia menyaksikan beberapa contoh mencolok mengenai penghormatan yang dimiliki banyak orang Islam untuk Bunda Maria.

Di Biara Bunda Maria, sebuah gereja Ortodoks di Sednaya, Suriah, ia menyaksikan para Muslim saleh menggelar sajadah untuk bergabung dengan orang Kristen yang sedang menghormati sebuah ikon Maria yang terkenal yang telah dilukis oleh Santo Lukas Penginjil dan diyakini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit.

Dan di akhir tahun 1960-an, banyak umat Islam berada di antara jutaan orang yang berkumpul di sebuah gereja Ortodoks Koptik di Mesir, berharap melihat sekilas dari penampakan Maria yang telah dilaporkan, katanya.

Selama lebih dari satu tahun sejak 1968, penampakan Maria dilaporkan terjadi di atas kubah Gereja Perawan Maria di daerah Zeitoun Kairo.

Williams pergi ke gereja tersebut satu kali selama waktu itu dan terkejut melihat kaum Muslim berada di antara orang banyak itu, katanya.

“Saya bertanya kepada beberapa orang, <Bukankah itu agak lucu bagi kalian untuk datang ke sini ke sebuah gereja Kristen?>”, kata Williams. Mereka menjawab bahwa mereka menganggap hanya tepat jika Maria muncul di sebuah gereja yang didedikasikan untuk dirinya, tetapi menjelaskan bahwa mereka percaya dia [Maria] sedang berbicara kepada semua orang Mesir, bukan hanya orang Kristen.

“Mereka semua melihatnya sebagai tanda besar penghiburan setelah perang dengan Israel (tahun 1967) bahwa Allah tidak melupakan orang-orang Mesir,” katanya.


Sumber : Artikel CNS “Mary not just for Catholics anymore“, 8 Desember 2006

Terjemahan bebas oleh MT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: