MC - KCBM

Maria dan Islam

In Wawasan on 13/04/2011 at 12:42

Islam adalah satu-satunya agama besar pasca-Kristen di dunia. Karena agama itu berasal pada abad ketujuh di bawah Muhammad, adalah mungkin untuk menyatukan di dalamnya beberapa elemen Kristen dan Yahudi.

Islam mengambil doktrin Keesaan Allah, Keluhuran-Nya, dan Kuasa Penciptaan-Nya, dan menggunakannya sebagai dasar untuk penolakan akan Kristus, Anak Allah.

Kesalahpahaman pengertian tentang Trinitas telah membuat Muhammad menjadikan Kristus hanya seorang nabi saja.

Gereja Katolik di seluruh Afrika Utara sebenarnya telah dihancurkan oleh kekuatan Muslim dan pada saat ini (sekitar 1950), kaum muslim mulai bangkit kembali.

Jika Islam adalah heresy [1], sebagaimana Hilaire Belloc percaya hal itu, maka itu adalah satu-satunya heresy yang tidak pernah menurun, baik dalam jumlah maupun dalam kesetiaan para pengikutnya.

Upaya misionaris Gereja terhadap kelompok ini telah, setidaknya di permukaan, gagal, bagi kaum muslim yang sejauh ini hampir tidak terpengaruh untuk pindah agama. Alasannya adalah bahwa bagi seorang pengikut Muhammad untuk menjadi seorang Kristen adalah lebih mirip seorang Kristen menjadi Yahudi. Umat Islam percaya bahwa mereka memiliki wahyu terakhir dan definitif dari Allah kepada dunia dan bahwa Kristus hanyalah seorang nabi yang mengumumkan Muhammad sebagai nabi terakhir yang sungguh dari Allah.

Dewasa ini (1950), kebencian negara-negara Muslim terhadap Barat menjadi kebencian terhadap kekristenan itu sendiri. Meskipun negarawan masih mengabaikannya, tetap saja ada bahaya besar bahwa kekuatan temporal Islam akan kembali dan, dengannya, ancaman yang mungkin mengguncang Barat yang telah berhenti menjadi Kristen, dan menegaskan dirinya sendiri sebagai kekuatan besar dunia anti-Kristen.

Adalah keyakinan kita yang kuat bahwa ketakutan terhadap beberapa hiburan yang berkenaan dengan kaum muslim tidak akan terrealisasikan, bahkan justru sebaliknya bahwa Islam yang pada akhirnya berbalik kepada kekristenan – dengan cara yang bahkan tidak pernah diduga oleh sejumlah misionaris kita.

Adalah keyakinan kita bahwa hal ini akan terjadi bukan melalui pengajaran langsung mengenai kekristenan, tetapi melalui panggilan dari kaum muslim sebagai penghormatan Bunda Allah.

Berikut adalah garis argumennya:

Al-Qur’an, yang merupakan kitab suci kaum muslim, memiliki banyak bagian yang berkenaan dengan Perawan Maria. Pertama, Qur’an percaya akan perkandungannya yang tanpa noda dan akan kelahirannya yang perawan. Bab ketiga dari Qur’an menempatkan sejarah keluarga Maria dalam sebuah silsilah yang beranjak kembali melalui Abraham, Nuh, dan Adam. Ketika orang membandingkan deskripsi Qur’an tentang kelahiran Maria dengan Injil apokrip tentang kelahiran Maria, orang itu tergoda untuk percaya bahwa Muhamad sangat tergantung pada yang disebut terakhir.

Kedua buku menggambarkan usia tua dan sterilitas nyata dari Anna, ibunda Maria. Namun ketika Anna hamil, ibunda Maria itu berkata dalam Qur’an, “Ya Tuhan, aku bersumpah dan aku menguduskan kepada Engkau apa yang sudah ada di dalam diriku Terimalah itu dari aku.”

Ketika Maria lahir, ibunya, Anna, berkata, “Dan aku menguduskan dia dengan semua keturunannya di bawah perlindungan-Mu, ya Tuhan melawan iblis!”

Qur’an juga memiliki ayat mengenai Kabar Sukacita, Kunjungan, dan Kelahiran. Para malaikat digambarkan sebagai yang mendampingi Bunda Maria dan yang berkata, “Hai Maryam, Allah telah memilih engkau dan memurnikan engkau, dan memilih engkau di atas semua wanita di bumi ini.”

Dalam Qur’an bab kesembilan belas, terdapat 41 ayat tentang Yesus dan Maria. Ada semacam pembelaan yang kuat mengenai keperawanan Maria di sini bahwa Qur’an, dalam buku keempat, mengaitkan kutukan orang-orang Yahudi dengan fitnah mereka yang kejam terhadap Perawan Maria.

Maria, selanjutnya, adalah ‘Sayyida‘ atau Perempuan sejati bagi kaum muslim. Satu-satunya saingan serius yang mungkin untuk dia di dalam iman kepercayaan mereka adalah Fatima, putri Muhammad sendiri. Namun, setelah kematian Fatima, (ini tampaknya salah cetak karena Muhammad meninggal sebelum Fatima – editor CAI) Muhammad menulis: “Engkau menjadi yang paling terberkati dari semua perempuan di Surga, setelah Maryam.”

Dalam sebuah teks yang berbeda, Fatima berkata, “Aku melebihi semua wanita, kecuali Maryam.”

Hal ini membawa kita kepada titik kedua kita, yaitu, mengapa Bunda Maria, dalam abad kedua puluh ini (1950), harus mengungkapkan dirinya sendiri di desa kecil Fatima yang tidak berarti, sehingga semua generasi berikutnya akan mengenal dia sebagai “Our Lady of Fatima” [terjemahan lateral: “Perempuan dari Fatima”].

Tidak pernah terjadi sesuatu keluar dari surga kecuali dengan kecerdasan yang mendetail. Saya percaya bahwa Santa Perawan memilih untuk dikenal sebagai “Our Lady of Fatima” sebagai janji dan tanda harapan kepada orang-orang muslim, dan sebagai jaminan bahwa mereka, yang menunjukkan rasa hormat yang sungguh kepada dia, akan suatu hari nanti menerimanya Putra Ilahinya juga.

Petunjuk yang mendukung pandangan-pandangan ini ditemukan dalam fakta historis bahwa kaum muslim menduduki Portugal selama berabad-abad. Pada saat ketika akhirnya mereka diusir, sang pemimpin kaum Muslim terakhir memiliki seorang putri cantik bernama Fatima.

Seorang pemuda Katolik jatuh cinta dengan dia, dan untuk sang pemuda ini, dia tidak hanya tetap tinggal ketika kaum muslim pergi, tapi juga memeluk Iman Katolik. Suami muda itu begitu mencintainya sehingga dia mengubah nama kota di mana dia tinggal menjadi Fatima. Dengan demikian, tempat sebenarnya dimana Bunda Maria menampakkan diri di tahun 1917 mengandung koneksi historis kepada Fatimah, putri Muhammad.

Petunjuk terakhir mengenai hubungan Fatima dengan kaum muslim adalah penyambutan antusias yang kaum muslim di Afrika dan India dan tempat lain berikan kepada patung ziarah dari Our Lady of Fatima. Kaum muslim mengikuti upacara Katolik untuk menghormati Bunda Maria; mereka diperbolehkan mengikuti prosesi keagamaan dan bahkan doa-doa sebelum ke mesjid mereka, dan di Mozambik kaum muslim, yang semula tidak mengubah keyakinannya, mulai menjadi Kristen segera setelah patung Our Lady of Fatima didirikan.

Misionaris di masa mendatang akan semakin melihat bahwa kerasulan mereka di antara kaum muslim akan berhasil selama mereka memberitakan Our Lady of Fatima. Karena Islam memiliki devosi kepada Maria, maka seharusnya misionaris kita semata-mata yakin untuk memperluas dan mengembangkan devosi dengan realisasi penuh bahwa Santa Perawan akan membawa kaum muslim ke dalam sisa perjalanan Putra Ilahinya.

Sebagaimana mereka yang kehilangan devosi padanya akan kehilangan kepercayaan pada Keilahian Kristus, demikian pula mereka yang mengintensifkan devosi padanya akan secara bertahap mendapatkan kepercayaan itu. [2]


Catatan Kaki:

[1] Kitab Hukum Kanonik (KHK) Kanon 751 :
Yang disebut bidaah (heresis) ialah menyangkal atau meragukan dengan membandel suatu kebenaran yang harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik sesudah penerimaan sakramen baptis; kemurtadan (apostasia) ialah menyangkal iman kristiani secara menyeluruh; skisma (schisma) ialah menolak ketaklukan kepada Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya.

[2] Diambil dari “The World’s First Love” [Cinta Pertama Dunia] oleh Uskup Fulton J. Sheen 1952, diterbitkan oleh McGraw-Hill Book Company, NY, NY.


Penulis: Mgr. Fulton J. Sheen

Sumber: www.catholicapologetics.info

Penerjemah: MT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: