MC - KCBM

Kotbah Paus pada HR Maria Bunda Allah 2012

In Kotbah on 09/01/2012 at 02:22

Berikut adalah terjemahan bebas dari kotbah Paus Benediktus pada Perayaan Ekaristi HR Maria Bunda Allah, 1 Januari 2012, yang sekaligus merupakan Hari Perdamaian Dunia yang ke-45.

Saudara-saudari yang terkasih !

Pada hari pertama tahun ini, liturgi itu bergema di dalam Gereja di seluruh dunia bersama dengan berkat imam purba yang kita dengar selama bacaan pertama hari ini: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;  Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bil 6:24-26). Berkat ini dipercayakan oleh Allah, melalui Musa, kepada Harun dan anak-anaknya, yakni, kepada imam-imam orang Israel. Ini adalah berkat rangkap tiga yang dipenuhi dengan cahaya, yang memancar dari pengulangan nama Allah, Tuhan, dan dari gambar wajah-Nya. Sesungguhnya, untuk diberkati, kita harus berdiri di hadirat Allah, menempatkan nama-Nya atas kita dan tetap berada dalam kerucut cahaya yang keluar dari wajah-Nya, dalam ruang yang diterangi oleh tatapan-Nya, yang memancarkan kasih karunia dan damai sejahtera.

Ini adalah pengalaman yang teramat sangat yang dialami oleh para gembala dari Betlehem, yang muncul kembali dalam Injil hari ini. Mereka memiliki pengalaman berdiri di hadirat Allah, mereka menerima berkat-Nya tidak di dalam aula sebuah istana megah, di hadapan seorang penguasa agung, melainkan di sebuah kandang, di depan seorang bayi “yang sedang berbaring di dalam palungan” (Luk 2:16 ). Dari anak ini, seberkas cahaya baru memancar keluar, bersinar di kegelapan malam, sebagaimana yang dapat kita lihat dalam begitu banyak lukisan yang menggambarkan Kelahiran Kristus. Selanjutnya, berkat datang dari Dia, dari nama-Nya – Yesus, yang berarti “Tuhan menyelamatkan” – dan dari wajah manusia-Nya, di mana Allah, Tuhan Mahakuasa atas langit dan bumi, memilih untuk berinkarnasi, menyembunyikan kemuliaan-Nya di bawah selubung kedagingan kita, guna menyingkapkan sepenuhnya kepada kita kemurahan-Nya (bdk. Tit 3:4).

Yang pertama dipenuhi berkat ini adalah Maria Sang Perawan, pasangan Yusuf, yang dipilih oleh Allah sejak saat pertama keberadaannya untuk menjadi bunda dari inkarnasi Putera-Nya. Dia adalah yang diberkati “di antara semua perempuan” (Luk 1:42) – dalam ungkapan salam dari St. Elizabeth. Seluruh hidupnya dihabiskan dalam terang Tuhan, di dalam jangkauan dari nama-Nya dan dari wajah Allah yang berinkarnasi dalam Yesus, Sang “buah rahimnya” yang terberkati. Demikianlah Injil Lukas memperkenalkan Maria kepada kita: dia yang sepenuhnya bermaksud menjaga dan merenungkan dalam hatinya akan segala sesuatu yang berkenaan dengan anaknya, Yesus (bdk. Luk 2:19, 51). Misteri keibuan ilahinya yang kita rayakan hari ini mengandung karunia rahmat yang berlimpah-limpah di mana semua ibu manusia melahirkan di dalamnya; begitu berlimpahnya karunia itu sehingga kesuburan rahim itu selalu dikaitkan dengan berkat Allah. Bunda Allah adalah yang pertama yang diberkati, dia adalah yang membawa berkat; dia adalah perempuan yang menerima Yesus di dalam dirinya sendiri dan melahirkan Dia untuk seluruh keluarga manusia. Dalam kata-kata liturgi: “tanpa kehilangan kemuliaan keperawanan, [dia] melahirkan bagi dunia Cahaya Kekal, Yesus Kristus Tuhan kita” (Prefasi I dari Santa Perawan Maria).

Maria adalah bunda dan model Gereja, yang menerima Sabda Ilahi dalam iman dan menawarkan dirinya sendiri kepada Allah sebagai “tanah yang subur” di mana Dia dapat melanjutkan untuk menyelesaikan Misteri Penyelamatan-Nya. Gereja juga berpartisipasi di dalam misteri keibuan ilahi, melalui kotbah, yang menaburkan benih Injil ke seluruh dunia, dan melalui sakramen-sakramen, yang menyampaikan rahmat dan kehidupan ilahi kepada manusia. Gereja menjalankan keibuannya terutama dalam Sakramen Pembaptisan, ketika dia [Gereja -red] menghasilkan anak-anak Allah dari air dan Roh Kudus, yang berseru dalam diri mereka masing-masing: “ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:6). Seperti Maria, Gereja adalah perantara berkat Allah bagi dunia: dia menerimanya dalam penerimaan Yesus dan dia menyalurkannya dalam kelahiran Yesus. Dia [Yesus -red] adalah kasih dan perdamaian yang dunia tidak dapat beri dari dirinya sendiri, dan yang dunia selalu butuhkan setidaknya seperti makanan.

Sahabat-sahabat terkasih, perdamaian, dalam arti sepenuhnya dan tertinggi, adalah jumlah dan sintesis dari semua berkat. Jadi, ketika dua sahabat bertemu, mereka menyapa satu sama lain, masing-masing mengucapkan damai. Gereja juga, pada hari pertama dari tahun ini, memohon kebajikan agung ini dengan cara yang khusus; dia [Gereja -red] melakukannya, seperti Perawan Maria, dengan menyatakan Yesus kepada semua. Dia adalah “damai sejahtera kita” (Ef 2:14) sebagaimana Santo Paulus berkata, dan pada saat yang sama Dia adalah “jalan” dengan mana individu-individu dan orang-orang dapat mencapai tujuan yang kita semua inginkan. Dengan keinginan yang mendalam ini di dalam hati saya, saya gembira untuk menyambut dan menyapa kalian semua yang telah datang ke Basilika Santo Petrus pada Hari Perdamaian Dunia ke-45 ini: para kardinal, para duta besar dari begitu banyak negara sahabat, yang pada kesempatan yang berbahagia ini berbagi keinginan lebih dari sebelumnya dengan saya dan dengan Tahta Suci untuk komitmen baru bagi promosi perdamaian dunia, Presiden Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, yang dengan Sekretaris dan para pejabat kongregasi bekerja dengan cara tertentu demi tujuan ini; para uskup dan otoritas lainnya saat ini; wakil dari asosiasi-asosiasi dan gerakan-gerakan gerejawi dan kalian semua, saudara-saudara dan saudari-saudari, terutama mereka di antara kalian yang bekerja di bidang pendidikan kaum muda. Memang – seperti yang kalian tahu – peran pendidikan adalah apa yang saya sorot dalam Pesan saya untuk tahun ini.

“Pendidikan Orang Muda dalam Keadilan dan Perdamaian” adalah sebuah tugas untuk setiap generasi, dan terima kasih kepada Allah, setelah tragedi dari dua perang dunia yang besar, keluarga manusia telah menunjukkan peningkatan kesadaran akan pendidikan itu, seperti yang kita dapat saksikan, di satu sisi, dari laporan-laporan dan inisiatif-insiatif internasional, dan di sisi lain, dari kemunculan berbagai bentuk komitmen sosial di bidang ini di kalangan orang muda sendiri dalam beberapa dekade terakhir. Bagi komunitas gerejawi, pendidikan laki-laki dan perempuan dalam perdamaian adalah bagian dari misi yang diterima dari Kristus, yang merupakan bagian integral dari penginjilan, karena Injil Kristus adalah juga Injil keadilan dan perdamaian. Namun Gereja, di masa sekarang, telah menegaskan sebuah permintaan yang mempengaruhi setiap orang dengan hati nurani yang peka dan bertanggung jawab mengenai masa depan kemanusiaan; permintaan tersebut untuk menanggapi tantangan mutlak yang terjadi tepat di bidang pendidikan. Mengapa hal ini sebuah “tantangan”? Untuk setidaknya dua alasan: di tempat pertama, karena di zaman sekarang, yang begitu kuat ditandai dengan mentalitas teknologi, keinginan untuk mendidik dan bukan melulu untuk mengajar, tidak dapat diterima untuk dituruti, itu adalah sebuah pilihan; di tempat kedua, karena budaya relativisme menimbulkan sebuah pertanyaan radikal: apakah hal mendidik itu masih masuk akal? Dan kemudian, mendidik untuk apa?

Tentu saja sekarang bukan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mendasar ini, yang mana saya telah mencoba untuk menjawab pada kesempatan-kesempatan lain. Sebaliknya saya ingin menggarisbawahi kenyataan bahwa, dalam menghadapi bayang-bayang yang mengaburkan cakrawala dunia saat ini, untuk memikul tanggung jawab bagi pendidikan orang muda dalam pengetahuan mengenai kebenaran, dalam nilai-nilai dan kebajikan-kebajikan fundamental, adalah untuk menatap masa depan dengan harapan. Dan dalam komitmen untuk pendidikan holistik ini, formasi dalam keadilan dan perdamaian memiliki tempat. Anak-anak sekarang ini sedang bertumbuh di dalam dunia yang, begitulah dikatakan, mengecil, di mana kontak-kontak antara budaya-budaya dan tradisi-tradisi yang berbeda, meskipun tidak selalu secara langsung, adalah konstan. Bagi mereka, sekarang lebih dari sebelumnya, adalah harus untuk belajar pentingnya dan seninya hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dialog dan pengertian. Orang muda menurut sifatnya, terbuka untuk sikap-sikap ini, tetapi realitas sosial di mana mereka bertumbuh dapat menyebabkan mereka berpikir dan bertindak dengan cara yang berlawanan, bahkan menjadi tidak toleran dan kasar. Hanya pendidikan hati nuraninya yang solid lah yang dapat melindungi mereka dari resiko-resiko ini dan membuat mereka mampu bertahan dalam pertarungan, yang selalu dan semata-mata tergantung pada kekuatan dari kebenaran dan kebajikan. Pendidikan ini dimulai di dalam keluarga dan dikembangkan di sekolah dan dalam pengalaman formatif lainnya. Hal yang esensial adalah tentang membantu bayi, anak-anak dan remaja untuk mengembangkan kepribadian yang menggabungkan rasa keadilan yang mendalam dengan menghormati tetangga mereka, dengan kapasitas untuk menangani konflik tanpa arogansi, dengan kekuatan dari dalam untuk menanggung kesaksian yang baik, bahkan jika itu membutuhkan pengorbanan, dengan pengampunan dan rekonsiliasi. Dengan demikian mereka mampu menjadi orang perdamaian dan pembangun perdamaian.

Dalam tugas mendidik generasi-generasi muda ini, sebuah tanggung jawab khusus tergantung pada komunitas-komunitas religius. Setiap jalur dari formasi relijius yang otentik memandu orang tersebut, dari usia yang paling rapuh, untuk mengenal Allah, untuk mencintai-Nya dan untuk melakukan kehendak-Nya. Allah adalah kasih, Dia adil dan damai, dan setiap orang yang ingin menghormati-Nya harus pertama-tama bertindak seperti seorang anak yang mengikuti teladan ayahnya. Salah satu Mazmur mengatakan: “Tuhan melakukan perbuatan keadilan, memberikan keputusan bagi semua yang tertindas … Tuhan adalah belas kasih dan cinta, lambat untuk marah dan kaya akan rahmat “(Mzm 102:6,8). Dalam Tuhan, keadilan dan kemurahan hati datang bersama-sama secara sempurna, seperti yang Yesus tunjukkan kepada kita melalui kesaksian hidup-Nya. Dalam Yesus, “cinta dan kebenaran” telah bertemu, “keadilan dan perdamaian” telah berpelukan (bdk. Mzm 84:11). Dalam hari-hari ini, Gereja sedang merayakan misteri besar Inkarnasi: kebenaran Allah telah bersemi dari bumi dan keadilan terlihat turun dari surga, bumi telah menghasilkan buahnya (bdk. Mzm 84:12,13). Allah telah berbicara kepada kita dalam Yesus Putera-Nya. Marilah kita mendengar apa yang Allah harus katakan: “sebuah suara yang berbicara tentang perdamaian” (Mzm 84:9). Yesus adalah jalan yang bisa ditempuh, terbuka untuk semua orang. Dia adalah jalan damai. Hari ini Sang Perawan Maria menunjukkan diri-Nya kepada kita, dia memperlihatkan kita Sang Jalan: mari kita berjalan di dalamnya! Dan engkau, Bunda Allah yang Kudus, menemani kami dengan perlindunganmu. Amin.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: